Hari Noken Internasional yang jatuh tepat pada (4/12) hari ini, dirayakan sederhana oleh rakyat Papua atau pelaku budaya Noken Papua di GOR Sanggeng Manokwari, Papua Barat.

Tidak hanya kampanye tentang mempertahankan budaya Noken Papua sebagai warisan orang asli Papua, namun rakyat Papua juga melakukan penandatanganan petisi Noken Papua di depan Gor Sanggeng.

Warga Papua atau para penggiat noken Papua ini melakukan long march dari lapangan Borasi ke Gor Sanggeng oleh masyarakat Papua peduli noken Papua, Selasa sore. Dimana kegiatan itu dilaksanakan sebagai hari sejarah noken Papua sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.

Hari Noken

“Jaga Noken, jaga Papua dari noken kitong ada” adalah tema yang tentu mengingatkan kembali tentang kilas balik sejarah noken Papua sebagai budaya asli Papua yang sudah diakui oleh dunia.

Long march itu diikuti masyarakat Papua dari berbagai kalangan suku. Sebagai penanggungbjawab kegiatan yakni Yayasan Gubuk Yagua Arfak dan didukung oleh pemda Manokwari.

Ketua Yayasan Gubuk Yagua Arfak, Septi Maidodga kepada wartawan di GOR Sanggeng menjelaskan, yayasan Gubuk Yagua ikut berpartispasi pada kegiatan hanyaman m noken Arfak sebagai warisan budaya Papua dan khusus bagi suku Arfak dalam membudidaya hanyaman atau merajuk noken.

Oleh karena itu, yayasan Gubuk Arfak ini meminya adanya  didukung oleh pemerintah daerah dengan membuat peraturan daerah khusus melindungi apa yang sudah menjadi budaya Papua, sebab dari menganyam noken Papua seperti ini untuk menjaga warisan budaya dan melestarikan talenta mama Papua dalam merajut noken.

Melalui hari noken Internasional ini, yayasan gubuk Yagua Arfak menitip tiga pesan khusus, yakni meminta kepada pemerintah agar membangun galeri yang dapat menampung noken Papua, pemerintah diminta membuat produk hukum melindungi hak-hak dasar mama-mama Papua dalam merajuk noken, dan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten, kota diminta terus membantu kampanyekan noken Papua.

Kata Septi, pihaknya berharap ada perlindungan noken Papua sebagai warisan harkat dan martabat orang asli Papua. Apalagi kegiatan hari Noken Internasional ini dilaksanakan selama 2 hari (3&4) Desember 2018 di Manokwari Papua Barat.

Septi menambahkan, sebelumnya pada 3 Desember mereka lakukan seminar ilmiah. Kemudian pada puncak hari noken internasional, panitia mengundang mama-mama Papua dengan talenta merajuk noken dari 7 wilayah adat di tanah Papua untuk pamerkan noken buatan mereka pada momen ini.

sumber

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.